Gak ada yang tahu kapan cinta bakal datang, kapan cinta akan menyapa, dan kapan rindu akan menggebu-gebu. Semuanya rahasia dari tuhan.
Seperti debu yang hinggap diatas batu, kadang datang terbawa angin dan kadang pula tersapu oleh angin itu sendiri.
Ada hal-hal yang tak pernah sempat kita tahu, ada pula yang memang jauh dari apa yang pernah kita bayangkan. Dengan siapa kita saat ini, bersama siapa kita melewatinya, selau saja ada kejutan dari yang maha kuasa. Yang awalnya hanya berucap sapa dan tak pernah lebih, akan berganti dengan banyak kisah untuk diceritakan.
Sosok itu tiba-tiba hadir, datang dengan sendirinya, tiba-tiba muncul seperti pesulap yang bermain diatas panggung, mempertontonkan aksinya yang membuat penonton terpukau. Mengeluarkan magic membuat hati terpana, begitulah kehadiranmu.
Tidak ada alasan sediktipun ucap mulutmu, alasan untuk mencintai, alasan untuk menyayangi setulus hatimu, semuanya hanya ikhlas tanpa tau berasal dari mana. Pelan-pelan kau menyayangiku, meski banyak tertuang dalam kata namu selalu kucoba untuk memahaminya.
Sedikit isak tangis pernah kudengar, menandakan rintihan rindu yang memang sudah tak tertahan, “aku akan pulang” bisikku di telingamu, walau aku sendiripun tak pernah tahu kapan akan pulang. Yang kutau, tuhan akan mempertemukan kita disaat kita sudah siap untuk bertatap kembali.
Tidak pernah terbayangkan memang, beberapa kali aku mencoaba bertanya pada diri sendiri, namun tak pernah ada jawaban. Bertanya kepadamu, hanya sepotong kalimat yang kudapat “aku nyaman bersamamu”.
Ini kisah kita, aku mencoba bercerita tentang kita saja, tentang kita berdua, tentang tawa yang kita buat, tentang pelukan hangat yang kita ciptakan dalam panasnya mentari menyengat, namun hangatnya kasih sayang begitu terasa.
Tidak lama, beberapa hari denganmu cukup untuk melihat tawamu, cukup untuk mengerti bahasa tubuhmu, cukup untuk mendengar ocehan manismu, cukup untuk selalu cerewet terhadap keras kepalanya dirimu. Kita bukan apa-apa, kita hanya mencoba untuk bersama, itu saja.
Aku melihat masa lalumu yang menggores jauh di dalam hati, aku ikut menyelam bersama kisah yang kau sampaikan, tak banyak kebahagiaan yang kutemukan, segalanya hanya berakhir duka. Yang kumau hanya senyuman kebahagiaan darimu, tawa lepas yang tak pernah ada beban untuk kau pikul sendiri. Singkatnya, aku hanya ingin memberikan yang terbaik dalam hidupmu.
Hingga saatnya kita menjauh, menjadikan jarak sebagai pembatas untuk saling melihat, menjadikan lautan sebagai jalan angin untuk mengantar pesan rindu.
Kita memang mencoba mengikat janji, untuk tak akan pernah adanya rindu, Namun apa daya, sayangmu kuat, perhatianmu melekat, senyummu terikat erat di benakku.
Memikirkanmu memang tak pernah semuda menulis kata-kata “aku merindumu”, namun lebih dari itu memang nyata aku merindukanmu.
Tak mungkin untuk saling menyapa dalam nyata, dalam khayal kucoba mengingat lagi, tentangmu, tentang kita yang bersama dalam hitungan jari. Kita yang tak pernah luput dari tawa, kita yang tak pernah takut untuk saling berucap apakah pantas atau tidak, kita hanya mencoba membentuk tawa dalam singkatnya pertemuan.
Kita jauh (lagi)…
Kita bercumbu dalam dunia maya…
Kita saling melepas rindu lewat sebuah mesin…
Mecoba saling menenangkan dalam gundah, dan saling membahagiakan dalam tawa……